Pendidikan Karakter, bagaimanakah itu?

4 08 2010

Saya tertarik menilik lebih jauh pendidikan karakter karena menemukan berita bagus di sini dan disini.
Kemudian menemukan referensi lengkap dari sini, sini, dan sini.





mImPI

8 06 2010

Plan A : keluarga, punya keluarga sakinah wa dzurriyah thoyyibah.
Plan B : pencapaian spiritualitas, tahfidh dan haji.
Plan C : karir, kembali ke jalur semula.
Plan D : ngikut, masalah rumah dan mobil biar dipikir suami.

Wufff, aku bersyukur masih bisa bermimpi. Ada orang di luar sana yang merasa tidak boleh bermimpi. Ada yang tidak berani bermimpi. Ada orang yang kesulitan merumuskan mimpi.

Kalau kita punya mimpi, seberapapun gerak kita, bahkan walaupun lambat, pasti ada barometer yang menunjukkan kemajuan dari mimpi kita. Kalau kita tak punya mimpi, seberapa besar gerak pun serasa tidak punya arah.

Namun pada titik ini, aku merasa di titik nol. Merasa pencapaianku mandeg, jalan di tempat. Merasa buntu.

Lantas ada di luar sana, orang yang tidak punya target, tidak punya rencana, tidak punya planning, tapi secara intuitif melakukan saja apa yang harus dilakukan. Begitu saja… Tapi tanpa terasa sudah mendapatkan suatu pencapaian. Orang ini punya karakter. Karakter spontan untuk menuju sukses.

Lantas sebenarnya, yang bagus itu bagaimana, sih…?





Catatan untuk suamiku

8 06 2010

Tahukah mas kalau kemarin malam aku tidak juga bisa tidur sampai pagi menjelang? Sambil aku menangis, mengingat kebaikanmu yang tak kunjung bisa kubalas sampai sekarang..

Tahukah mas kalau setiap malam selalu kupandangi wajah mas yang sedang terlelap tanpa beban? Sambil berpikir, bisakah aku mendampingi mas sampai akhir kehidupan..

Tahukah mas kalau aku sudah mencoba sekian banyak cara untuk mengungkapkan perasaan dan kepercayaanku namun tak juga kutemukan frase yang tepat bisa mewakili hati ini..

Maka maafkan bila aku belum bisa mewujudkan..
Maafkan bila ternyata aku tak seperti yang diinginkan..
Dan sekali lagi maafkan,…maafkan….maafkan…..untuk buah hati yang belum juga menjelang.





Fafirruu Ila Alloh

19 05 2010

“‘Nda, siapa pacarmu sekarang?”
-Semester 7,jauh di perantauan,teman-teman pada bingung nyari PW (pendamping wisuda)-
…pacarku siapa,ya…?
Pertanyaan yang aneh.

“Kok bisa tidak punya pacar?”
Iya juga,sih. Exactly aku bukan orang yang tahan tanpa pendamping, oh no…admirer. Sifat jelek masa lalu.

And I don’t care.

Yang diatas itu hanya terjadi sebentar saja saat kuliah. Setelah sekarang, kira-kira lima tahun berlalu, aku baru mencoba merenungkan kembali fenomena personal itu.

Jawabannya terselip di novel ayat-ayat cinta, saat Fahri diajak berdansa oleh Maria. Jawabnya (kira-kira): “Kalau kamu sholat, kalau kamu mengaji, maka Alloh akan mengganti asyik yang kau rasakan saat ini dengan keasyikan yang lain yang lebih baik”.

Mungkin itu juga yang kurasa ketika aku juga tidak peduli dengan hal-hal remeh temeh ABG tentang pacar dan lain sebagainya saat itu. Mungkin aku merasakan keasyikan yang lain yang lebih dahsyat yang mampu mengalihkan perhatianku. Andai saat itu aku lebih istiqomah, mungkin aku juga mendapatkan sesuatu yang lebih menakjubkan lagi. Sayang saat itu aku pun terkena penyakit dhat-nyeng, ada masa aku intensif mendekatkan diri pada-Nya, ada masa juga aku sedemikian jauh dari-Nya.

Jadi, untuk yang saat ini terkena serangan kebingungan karena cinta, atau menemukan cinta tapi salah tempat, atau bahkan masih bertanya-tanya dimanakah cinta, bisa dicoba resep ini. Lipat jarak dengan Yang Maha Kuasa supaya lebih dekat, rasakan keasyikan itu. Tapi apa resep ini manjur atau tidak, aku juga tidak tahu. Karena memang tidak mudah menetralisir hati jika sudah mulai terkontaminasi. Obat nya bukan mahal, tapi sulit. Maka sebelum terkena, sebaiknya terus waspada.





Pelajaran kemarin : JANGAN RAKUS

19 05 2010

Ibadah mahdhoh itu saling berkaitan, juga saling mempengaruhi. Sholat, puasa, sedekah, mengaji, semua itu bisa saling menyokong satu sama lain. Kalau kita hendak puasa, lalu sepertiga malam bangun untuk sahur, biasanya ada dorongan untuk sekalian sholat malam. Setelah sholat malam usai, ada jeda yang demikian tenang, tergoda untuk menghabiskan sisanya untuk membaca ayat-ayat Al-Quran.

Ibadah-ibadah itu jika sudah biasa dilakukan, mudah sekali untuk meneruskan. Kenikmatan yang terasa membuat kecanduan. Namun sekali kita terhenti melakukan, kadang memulainya lagi sulit sekali.

Dulu di ‘arena penggemblengan’, sholat malam diwajibkan. Pada awalnya agak sulit. Apalagi iklim kota Apel yang cenderung dingin. Jam tiga malam harus bangun dan mengambil air wudlu, fiuhhh….. Belum lagi kantuk yang terus menyerang. Tapi lama kelamaan, hmmm…enak juga,ya…asyiknya boleh juga. Dinginnya air singosari pukul tiga dini hari ternyata bikin kangen juga.

Dan ketika kangen itu kurasakan kini, ketika aku terjebak dalam lingkungan yang unpredictable sebelumnya, sulit sekali memulai lagi. Ada-ada saja alasannya. Yang capek lah, yang ngiri liat teman tidur nyenyak banget lah, yang ngerjain ibadah yang lain lah (he he he)… Gara-gara terlalu semangat memulai, malah gak jadi-jadi. Targetted setiap hari malah sama sekali.

Suami memang jarang sholat malam, tapi rawatib-nya rajin, senin-kamisnya juga lumayan (tapi lama gak puasa lagi,tuh). Ini juga bikin ngiri. Penginnya ngikut, tapi kok gak bisa-bisa juga. Apa mungkin semua karena terlalu rakus,ya..?

Selain sholat, tahfidhnya juga keteteran. Kalau di tahun awal dulu, setahun bisa dapat 7 juz, makin hari dan tahun makin dikit aja. Sekarang aja nambah 2 aja sulit. Gak usah jauh-jauh, sebulan dapat 1/4 aja,deh..gak jalan-jalan juga. Gimana,ya…?

Setelah kupikir-pikir, mungkin aku harus lebih menikmati perjalanan. Dapat sekian, dinikmati aja dulu. Jangan buru-buru nambah. Pantek dulu di kepala. Kalo udah puas, jalan lagi. Sholat juga gitu, dikit-dikit dulu, ntar kalau udah istiqomah, baru nanjak ke level yang lebih tinggi.

Fokus harus tetap fokus, tapi jangan rakus. Berharap perfect di semua lini ini mustahil. Dan kembali ke statemen awal, bahwa ibadah mahdhoh itu berkaitan, so step by step aja dulu, bisa jadi Alloh kasih jalan sehingga semua bisa kepegang.





Tentang Kebingungan

27 04 2010

“Abah, saya ingin berhenti..” aku memulai percakapan dengan Abah, seseorang yang kuhormati karena keluasan ilmunya.”Saya capek, saya merasa ini bukan hal terpenting dalam hidup saya, saya merasa bingung dan tak tahu harus memulai lagi dari mana…”

“Jika berhenti apa tidak justru akan menimbulkan sakit? Perasaan bersalah yang terus menghantui seumur hidup?”

Fiuh,…capek sekali. Yang capek itu perasaan ini…

“Kamu pernah mengorbankan sedikit hidupmu untuk mengabdi pada-Nya. Dan dari pengorbanan yang sedikit itu Alloh telah memberi karunia yang sangat besar. Padahal itu belum selesai. Pengabdianmu masih setengah jalan. Apa itu bukan pengkhianatan namanya. Pengkhianatan terhadap janjimu sendiri.”

Aku tertegun. Itu memang tekadku sejak awal untuk terus survive di ‘jalan’ ini… Tekad itu masih ada, meski tertatih-tatih dan selalu tergoda untuk berhenti seperti saat ini.

“Kamu punya potensi yang besar. Potensi itu berkembang atau tidak, tergantung kamu sendiri.”

Jangan mengungkit itu,…seperti tertimpa gunung besi saja. Aku tak sekuat itu…

“Saya yakin kamu mampu.”

“Abah, dua tahun ini saya tidak menghasilkan apa-apa. Semua tidak berjalan seperti rencana. Ternyata untuk mewujudkan impian itu tak semudah yang dibayangkan.”

“Tapi berhenti juga bukan keputusan terbaik.”

Apa iya???

“Anggap saja dua tahun itu pergantian musim…”

…………………

Itu tadi sekilas percakapanku dengan Abah, kira-kira inti yang tertangkap di benakku seperti itu, tapi ku olah dengan bahasaku sendiri.
Tentang apa? Tentang jiwaku yang terbang tak tentu arah, tentang kerinduanku untuk melakukan spiritual journey, tentang segala sesuatu menyangkut kehidupanku, dan banyak lagi… Mungkin tulisan ini tak cukup menggambarkan dengan jelas kondisi yang ada saat ini, tapi beginilah angin-angin…apa yang ada menyeruak begitu saja…





‘Si Bapak’ ini mengajariku Tahajjud…??

22 04 2010

Tanda tanya di judul diatas bukan pertanyaan, tapi keheranan. Ta’jub asli. Sosok yang lebih sering bersembunyi di gua personalnya ini lebih dikenal sebagai sosok praktis yang alih-alih bicara soal spiritual, bicara soal perasaan pun amat sangat jarang. Orang sekantor lebih terbiasa mengenal beliau dengan “petir di siang hari”-nya. He he he..alias hobinya marah-marah…

Tapi pagi ini aku berkesempatan curhat dan mendapatkan pencerahan langsung darinya. Lengkap n multidimensional. Mulai dari aspek ekonomi (seperti untuk segera mengambil kredit rumah), karier (eksistensi di dunia kerja), sampai masalah reproduksi especially tentang fertilitas (secara aku belum dikaruniai momongan hingga saat ini).

Dan ada secuil point kecil yang begitu membekas dari perbincangan itu, yaitu anjurannya untuk sholat tahajjud. Si bapak ini ngomongin soal tahajjud?? Tau aja kalau aku memang lagi malas tahajud-an. Tahu aja kalau aku memang sedang mengalami degradasi iman. Tahu aja kalau aku sebenarnya merindukan untuk bisa rutin tahajjud kayak dulu lagi.

Kalau yang ngomong itu kyai yang duduk manis di pesantren, mungkin aku akan berkata : “Ah, biasa….” Tapi kalau yang bicara ini adalah si “bapak” itu, menurutku itu baru luar biasa. Hemmm… Serius,nih… Lalu dilanjutkan : “Dimulai nanti malam,ya..?” Aku cuma tersenyum. “Saya bantu,ya?” Maksudnya apa,ya..? “Tapi kalaupun saya bantu kamu tidak akan tahu” Kalimat yang terakhir ini agak meragukan, apa benar begitu kalimatnya,ya..?

Jawabannya didapat jam 2 sore sehabis sesi curhat itu. Tiba-tiba mas Gi’ ruang sebelah heboh sendiri, ngomongin tentang nomor baru si bos. Mas Brian, sopirnya si ‘Bapak’ habis dikerjain dengan nomor fleksi baru itu. Hmmmmm… Aku jadi inget, beberapa hari lalu aku sering dapat panggilan dari nomor fleksi tak dikenal. Begitu diangkat, tak ada jawaban. Selalu begitu. Berulang kali seperti itu. Dan dilakukan tengah malam. Wusshhhh…. Jadi pengen ngecek, nomornya.

Duarrrrrr,…ternyata sama tuh. Berarti si penelepon misterius tengah malam itu si ‘Bapak’ yang lagi bangunin aku untuk sholat tahajjud. Hi hi hi…hampir saja tak umpatin dia…. Tenqi-tenqi, Bos…








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.